Tuesday, June 17, 2014

Kognisi dan Bahasa

KOGNISI

Kognisi adalah suatu proses belajar bagaimana informasi diolah, diubah, disimpan digunakan dan dapat mempengaruhi apa yang kita perhatikan, pahami, pelajari, ingat, percaya, dan rasakan.
Tiga aspek kognisi:
a.   Kognisi memproses informasi. Informasi adalah bagian dari kognisi yang ditemukan, diubah, disimpan, dan digunakan.
b.      Kognisi itu aktif. Informasi yang kita peroleh, aktif berubah, disimpan, dan digunakan dalam proses kognisi.
Dalam kognisi:
- Informasi diperoleh melalui indra
- Diubah melalui proses interpretatif dari persepsi dan berpikir
- Disimpan melalui proses memory
- Digunakan dalam penyelesaian masalah dan bahasa
c. Kognisi sangat berguna. Manusia menggunakan kognisi untuk bertahan hidup baik secara jasmani maupun dalam kehidupan sosial di dunia.

Berpikir

Suatu penalaran yang melibatkan proses memanipulasi informasi secara mental yang digunakan  untuk  membentuk konsep-konsep, menyelesaikan masalah, dan terlibat dalam kegiatan kreatifitas disebut berpikir.

Unit-Unit Dasar dalam Berpikir
Unit dasar dalam berpikir yaitu konsep. Konsep adalah cara untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan hal-hal, objek, peristiwa, hewan, atau orang-orang yang dihubungkan oleh beberapa fitur, sifat-sifat atau karakteristik dimana mereka semua memiliki kesamaan. Konsep membantu kita memproses informasi secara umum dan lebih efisien. Tanpa konsep, kita hanya dapat berpikir dalam hal- hal dan tindakan-tindakan yg spesifik.
Konsep dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Simple and Complex Concepts
Conjunctive concepts didefinisikan sebagai adanya simultan dari dua atau lebih karakteristik umum.
Disjunctive concepts didefinisikan sebagai adanya satu karakteristik umum atau yang lain, ataupun keduanya.

2. Natural Concepts
Natural concepts adalah dasar.  Konsep dasar adalah salah satu konsep yang memiliki inklusif tingkat menengah
Tiga tingkatan inklusif menurut Rosch:
a.       Konsep superordinate sangat inklusif karena terdiri dari banyak anggota. Contohnya makanan adalah konsep atas yang terdiri dari buah, sayur, lauk pauk, dll.
b.      Konsep dasar adalah inklusif tingkat menengah meskipun kategori ini masih terdiri dari banyak anggota contohnya yaitu buah adalah bagian dari makanan.
c.       Konsep subordinate adalah inklusif tingkat rendah. Contohnya yaitu apel terdiri dari anggota yang lebih sedikit dibanding buah dari tingkat menengah dan makanan dari tingkat atas.
Menurut Rosch, konsep dasar adalah konsep yang paling mudah dimengerti dan dipelajari. Umumnya, anak-anak lebih dahulu mempelajari konsep dasar daripada konsep atas ataupun konsep bawah. Menurut Rosch, ada empat karakteristik mengapa konsep dasar menjadi konsep yang paling mudah dimengerti dan dipelajari, yaitu:
1.      Konsep dasar membagikan atribut yang banyak
2.      Anggota-anggota dari konsep dasar membagikan bentuk-bentuk yang sama
3.      Aggota-anggota dari konsep dasar sering membagikan gerakan motorik
4.      Konsep dasar lebih mudah ditentukan
Model Klasik membuat konsep dengan mencari ciri yang membedakan suatu hal dengan hal lainnya.

Model Exemplar membuat konsep dari sebuah objek, hewan, atau seseorang dengan mendefinisikan atau membuat daftar mental dari karakteristik yang penting dari hal tersebut. Sesuai dengan model exemplar, kita membuat konsep dengan cara mempelajari karakteristik penting dari suatu hal.
Berbagai masalah dalam  model exemplar :
·         Terlalu banyak fitur. Di dunia nyata, sangat sulit untuk membuat daftar semua fitur-fitur yang mendefenisikan sesuatu (Rey,1983) . Jika daftar fitur-fitur yang kita buat untuk mendefenisikan sesuatu tidak lengkap, maka daftar tersebut bisa saja salah mendefenisikan hal yang kita maksud.
·         Terlalu banyak pengecualian. Setelah membuat daftar fitur untuk mendefinisikan sesuatu, kita juga akan membutuhkan daftar pengecualian yang tidak cocok untuk mendefinisikan hal tersebut.

Natural Concepts adalah prototipe atau bentuk dasar yang bagus. Prototipe adalah ketika seseorang menentukan sebuah konsep dengan menciptakan citra mental dan membandingkan suatu bagian dengan bagian yang paling tipikal berdasarkan karakteristik rata-rata suatu objek untuk mencari kesamaan dalam kelompok. Jika kita ditanyakan suatu contoh atau prototipe dari konsep superordinate pekerjaan, kita akan mengatakan dokter, pemadam kebakaran atau polisi. Kita mungkin tidak mengatakan designer atau barista.

Pemikiran dan Pemecahan Masalah : Menggunakan Informasi Untuk Mencapai Tujuan
Tanpa konsep, pikiran yang mengagumkan akan menjadi mustahil. Pemahaman konsep memberi kita wawasan tentang isi pikiran. Sekarang mari kita lihat contoh penting dari proses berpikir - pertanyaan tentang bagaimana kita menggunakan konsep untuk memecahkan masalah-masalah tertentu. Apa yang seharusnya Anda lakukan ketika Anda berpikir Anda marah kepada bos Anda dengan  pernyataan politik pedas yang Anda buat di pesta kemaren malam? Apakah Anda memberitahunya bahwa Anda hanya bercanda ? Apakah Anda berbicara dengannya lagi besok dengan harapan bahwa Anda dapat setuju atau tidak setuju tanpa permusuhan? Apakah Anda melupakan hal itu dengan asumsi bahwa ia tidak akan membiarkan gangguan politik dari evaluasi kinerja kerja Anda? Apakah Anda menunggu dan melihat apakah dia bertindak seolah-olah Anda benar-benar menyinggungnya -  ingat Anda hanya berpikir Anda membuatnya marah - sebelum Anda melakukan apapun lebih jauh ? Apakah Anda benar-benar melakukannya ?

Pemecahan masalah dapat didefinisikan sebagai proses berpikir di mana informasi yang digunakan untuk mencapai tujuan itu dihalangi oleh beberapa jenis rintangan. Mari kita periksa proses itu. Proses berpikir seperti apa yang kita ikuti dalam mencoba untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan kita?

Ada tiga langkah dalam proses berpikir yang terlibat dalam pemecahan masalah yang tampaknya harus dilakukan secara berurutan. Pertama, kita harus merumuskan masalah seperti apa yang sedang kita hadapi. Kedua, kita perlu mengevaluasi unsur-unsur dari masalah untuk memutuskan informasi dan alat-alat apa kita harus gunakan. Yang terakhir, kita juga perlu menghasilkan daftar solusi dan mengevaluasinya.


Merumuskan Masalah

            Sebelum kita dapat merumuskan masalah, kita harus bisa mendefenisikan masalah tersebut kedalam istilah yang jelas dan spesifik. Terkadang, masalah yang kita hadapi sudah jelas. Contohnya, Anda tahu bahwa tujuan untuk bisa dipromosikan dalam pekerjaan Anda belum tercapai, tapi Anda mungkin tidak tahu apa yang menghalangi Anda untuk dipromosikan. Anda berpikir : Aapakah saya perlu menunjukkan pekerjaan saya yang lebih baik ? Apakah saya perlu menjadi lebih baik ketika bersama superior saya ? Apakah saya perlu menjadi lebih tegas dalam meminta promosi ? Untuk menyelesaikan masalah, Anda harus tahu apa masalah sebenarnya.


Memahami dan Mengatur Unsur-Unsur dari Masalah

Setelah merumuskan masalah, kita harus membuat penelitian unsur-unsur masalah - informasi dan sumber daya lainnya tersedia bagi kita. Seringkali, pemecahan masalah yang efektif memerlukan agar kita fleksibel menafsirkan makna dan utilitas unsur-unsur ini. Banyak masalah hidup memerlukan reorganisasi mendalam dari unsur masalah. Salah satu cara dalam pemecahan masalah manusia agak diduga keliru, bagaimanapun, adalah sering bagi kita menjadi tidak cukup fleksibel dalam mengevaluasi elemen dalam masalah. Perhatikan situasi berikut. Karl duncker (1945) telah menyediakan masalah bagi Anda untuk diselesaikan. Anda diberikan tiga lilin, beberapa paku payung, dan sebuah kotak korek api. Masalah Anda adalah untuk meletakkan salah satu lilin di dinding sedemikian rupa bahwa lilin itu tidak akan menetes di lantai atau meja ketika terbakar.
Maka hasil dari percobaan yang dilakukan adalah, Anda akan berusaha berpikir sedemikian rupa untuk menyelesaikan masalah dengan sebaik mungkin mengikuti aturan yang telah dibuat. Dan hasil yang mungkin didapakan adalah Anda akan memaku kotak korek api pada dinding dan meletakkan lilin yang akan dibakar di atas kotak tersebut.
Keterbatasan sebagian besar dari yang kita alami dalam mengevaluasi unsur-unsur dari masalah ini adalah bahwa secara psikologis, kita terjebak dalam pola mental. Istilah pola mental yang mengacu pada kebiasaan cara mendekati atau memahami masalah

Menghasilkan dan Mengevaluasi Solusi Alternatif

Seringkali sebuah masalah memiliki lebih dari satu solusi. Jadi tugas kita adalah menghasilkan daftar kemungkinan solusi, mengevaluasi satu per satu dengan mencoba memperkirakan apa efek atau konsekuensi yang akan dihasilkan, memilih solusi terbaik, dan kemudian mengembangkan cara yang efektif untuk mengimplementasikannya.

Kita biasanya mengunakan dua tipe umum strategi berpikir untuk menyelesaikan masalah, yaitu algoritma dan heuristik. Algoritma adalah sistem berpikir sistematis yang menjamin sebuah solusi yang tepat. Komputer umumnya menggunakan algoritma karena komputer dapat dengan cepat mempertimbangkan banyak alternatif yang diputuhkan oleh algoritma yang rumit. Berlawanan dengan Heuristic reasoning yang didasari oleh strategi untuk meningkatkan kemungkinan dalam menemukan solusi yang tepat namun tidak dapat menjaminnya. Teori berpikir percaya bahwa kita menggunakan shortcut heuristik karena kapasitas kita untuk menjaga ingatan dalam memori yang bekerja dan memprosesnya secara nalar itu terbatas.


Faktor Emosional dalam Pengambilan Keputusan
 Kita berpikir tentang pemecahan masalah semata-mata sebagai sebuah proses berpikir. Emosi kita memainkan peran penting dalam pemecahan masalah.
Contoh kasus :  Mahasiswa pertama kali diminta untuk melihat sebuah cuplikan film yang sedih tentang kematian dari seorang anak laki-laki dan  film biasa tentang ikan tropis. Para peneliti meminta siswa untuk menyelesaikan skala emosi mereka saat itu dan menemukan bahwa siswa yang telah melihat film sedih merasa, seperti yang diharapkan, jauh lebih sedih daripada mereka yang telah melihat cuplikan film biasa tentang ikan tropis. Maka siswa diberi stabilo set berkualitas tinggi dan meminta mereka untuk memilih harga yang mereka akan menjualnya kembali ke peneliti – sekitar dari 50 sen sampai $ 14. Siswa yang telah melihat film biasa menetapkan harga rata-rata $ 4,50 untuk set stabilo. Siswa yang telah melihat film sedih hanya memilih harga $ 3,20 - mungkin karena mereka menilai stabilo set kurang berharga selama suasana hati sedih mereka yang singkat. Sebuah film yang menarik-narik hati siswa mempengaruhi keputusan yang mereka ambil.
Dalam situasi lain, faktor-faktor emosional dan kognitif bekerja sama untuk menentukan persepsi kita tentang risiko. Anda merasa lebih aman mengemudi di mobil atau terbang dengan pesawat komersial ? Jika Anda seperti kebanyakan orang, pesawat terasa lebih berisiko daripada mengemudi kendaraan, tapi statistik berbicara, Anda akan jauh lebih aman di udara ( Menurut website dewan keselamatan transportasi nasional AS  bahwa penerbangan AS membawa 629  juta penumpang pada tahun 2000, dengan hanya 92 korban jiwa).


Kreatif dalam Penyelesaian Masalah : Berpikir Konvergen dan Divergen


Kreativitas sangat dihargai dalam budaya kita, tetapi adalah konsep yang sulit untuk didefinisikan. Tidak ada definisi ilmiah tertentu yang telah diterima secara luas di antara peneliti, dan ada jurang yang lebar antara cara-cara di mana ilmuwan menentukan kreativitas dan cara kreativitas itu dianggap oleh orang-orang dalam bidang seni. Kita dapat mendefinisikan kreativitas dalam istilah yang umum, namun, sebagai kemampuan untuk menghasilkan "Produk" (seperti bermain, solusi untuk masalah-masalah sosial, puisi, sumber energi, simfoni, berguna, estetis indah, informatif, dan sebagainya).

Kita biasanya melihat kreativitas sebagai kemampuan individu atau atribut, mirip dengan kecerdasan. Apa yang menentukan apakah individu tertentu kreatif ? Konsep Guilford tentang berpikir konvergen dan divergen memberikan kerangka kerja yang baik untuk memahami kreativitas. Berpikir konvergen adalah logis, faktual, konvensional, dan berfokus pada masalah sampai solusinya ditemukan. saat Anda diminta untuk memecahkan masalah aljabar, Anda menggunakan keterampilan berpikir konvergen untuk memberikan jawabannya. Jika jenis pemikiran terdengar sudah biasa, ya seharusnya. Pendidikan paling formal menekankan pengajaran dan penilaian berpikir konvergen. siswa diajak untuk menemukan jawaban yang "benar". Sebaliknya, berpikir divergen kurang teratur,  hanya sebagian diarahkan, dan tidak konvensional. Tidak seperti berpikir konvergen, berpikir divergen menghasilkan jawaban yang harus dievaluasi secara subjektif. Contoh, jika kita diminta untuk membuat daftar banyak kemungkinan menggunakan batu bata, ada kemungkinan bahwa beberapa jawaban kita akan unik dan "kebenaran" jawaban ini akan menjadi tidak  jelas. Dalam contoh ini, individu yang membuat daftar penggunaan yang paling baru untuk objek yang umum, apakah mereka "masuk akal" atau tidak, yang dianggap paling banyak adalah pemikir divergen. Pemikir divergen, dengan kata lain, lebih mudah keluar dari pola mental yang membatasi pemikiran kita. Dalam budaya kita, orang-orang yang baik dalam pemikir divergen cenderung dianggap kreatif.

Kreativitas individu juga mungkin hasil dari kecerdasan.Sebagian besar orang yang kita anggap sebagai sangat kreatif juga sangat cerdas. Namun, kebanyakan peneliti di bidang kreativitas percaya bahwa berpikir kreatif adalah batas tertentu yang terpisah dari kecerdasan umum. Raaheim dan Kaufmann memberikan bukti bahwa pemecah masalah novel yang berhasil berbeda dari pemecah masalah yang gagal dalam jumlah usaha yang mereka buat daripada kecerdasan dasar mereka. Pemecah masalah berhasil mencoba lebih banyak solusi untuk masalah sebelum menyerah. Dalam studi klasik kreativitas, Anne Roe menemukan bahwa sekelompok ilmuwan yang kreatif dan seniman berbagi hanya satu karakteristik umum yaitu kemauan untuk bekerja sangat keras. Dimungkinkan untuk menjadi sangat kreatif tanpa sangat cerdas.

Terlepas dari kemampuan individu, bagaimana proses kreatif terjadi ? Bertahun-tahun yang lalu, Wallas menyatakan bahwa kreatif dalam penyelesaian masalah biasanya berhasil dalam empat langkah. Langkah pertama, persiapan, termasuk upaya awal untuk merumuskan masalah, mengingat fakta-fakta yang relevan, dan berpikir tentang solusi yang mungkin. Langkah kedua, inkubasi, adalah masa istirahat. Wallas menggunakan istilah inkubasi untuk membandingkan solusi kreatif untuk telur yang perlu diinkubasi untuk sementara waktu sebelum itu "menetas".

Orang-orang yang mencoba untuk memecahkan masalah yang memerlukan solusi kreatif umumnya merasa perlu untuk menyisihkan masalah untuk sementara setelah periode persiapan awal. Wallas percaya bahwa solusi kreatif diperlukan saat ini untuk "inkubasi". Penelitian menunjukkan bahwa mencurahkan waktu untuk persiapan dan inkubasi meningkatkan kreatif dalam penyelesaian masalah. Langkah ketiga, disebut iluminasi, mengacu pada wawasan yang tiba-tiba yang berkaitan dengan solusi. Langkah terakhir, verifikasi, melibatkan langkah yang diperlukan tapi kadang-kadang antiklimaks dari pengujian solusi.






BAHASA

Pengantar
Bahasa adalah salah satu hasil dari kecakapan kognitif yang dihasilkan manusia. Orang lanjut usia, anak-anak belia, para penata busana, mahasiswa tingkat akhir, dosen dalam sebuah universitas, kesemuanya menggunakan bahasa dalam setiap harinya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Jika tidak ada seorangpun yang dapat mereka ajak bicara, maka mereka secara spontan berbicara kepada diri mereka sendiri. Bahasa dalam pengertiannya, komunikasi informasi melalui simbol-simbol yang disusun berdasarkan aturan sistematis (Feldman,326). Secara singkat, bahasa adalah sebuah kode simbolik yang digunakan dalam komunikasi (Lahey,277). Tidak hanya dalam komunikasi, bahasa juga terkait dengan setiap cara kita memikirkan masalah dan memahami dunia. Tidak mengherankan, para psikolog memberikan perhatian lebih dalam mempelajari bahasa karena tanpa bahasa kemampuan kita untuk memahami informasi dan mendapatkan pengetahuan terganggu.
Untuk memahami bagaimana bahasa berkembang dan berkaitan dengan pikiran, kita pertama kali perlu melihat beberapa elemen formal dari bahasa. Struktur bahasa terletak pada tata bahasa. Mengingat fungsi bahasa adalah untuk mengatakan ‘sesuatu’ kepada seseorang, maka arti ‘sesuatu’ tersebut perlu dikomunikasikan melalui bahasa (sesuai tata bahasa). Misalkan Anda ingin mengkomunikasikan kepada anak anda bahwa 'pisang yang di atas rak'. Ide itu harus diterjemahkan ke dalam bahasa kode dan dinyatakan untuk anak anda, yang harus menerima dan memahami itu dengan menerjemahkan kembali ke ide yang sama. Dengan demikian, berarti ide yang dikirim dari orang ke orang telah menjadi bahasa.

Fungsi Generatif dalam bahasa

Struktur Bahasa
Sistem bahasa manusia merupakan bahasa yang efesien. Sangat efesien dalam menempatkan ingatan kita. Berhenti berpikir tentang pentingnya bahasa, dan coba pertimbangkan seberapa banyak hal yang anda katakana dalam hidup. Fleksibilitas bahasa yang luar biasa ini dihasilkan dari sejumlah aturan berbahasa yang jumlahnya terbatas.

Semua bahasa ini dicirikan dalam 4 hal yaitu :
1.      Fonologi
Fonologi yaitu sitem suara dalam satu bahasa. Bahasa tersusun dari sejumlah suara dasar ataufonem. Aturan-aturan fonologi memestikan bahwa urutan suara tertentu terjadi (contohnya Zx atau Ap) (khul,et al,2006,stoel-gammon and sosa,2007) contoh fonem dalam bahasa Inggris adalah /k/ suara yang ditampilkan oleh huruf k dalam bahasa ski dan huruf c dalam kata cat. /K/ di deskripsikan sebagai sebuah fonem tunggal daam bahasa Inggris. Dalam beberapa bahasa variasi menghasikan fonem yang berbeda.
1.      Morfologi (morphology)
Morfologi yaitu aturan pembentukan kata dalam bahasa. Setiap kata dalam bahasa Inggris terdiri atas satu atau lebih morfem. Sebuah morfem adalah unit terkecil dalam bahasa yang  membawa makna tertentu. Beberapa kata terdiri atas beberapa morfem tunggal , contohnya help. Dan kata yang terdiri atas beberapa morfem contohnya helper  yang memiliki 2 morfem yaitu help+er. Morfem er berarti “seorang yang” dalam kasus ini “orang yang membantu”. Tidak semua morfem merupakan kata, contohnya p-er-,-tion dan–ing.  Aturan fonologi memestikan bahwa urutan suara tertentu terjadi, morfem mengatur rangkaian suara yang terjadi dalam urutan tertentu.
2.      Sintaksis (syntax)
Sintaksis adalah aturan dalam sebuah bahasa dalam melakukan kombinasi kata untuk membentuk frasa dan kalimat yang dapat diterima ( Chang,dell& Bock,2006). Contohnya bila seseorang berkata “John mencium Emily” atau “Emily mencium Jhon” maka kita dapat menyimpulkan siapa yang mencium dan siapa yang dicium.
3.      Simantik (semantics)
Simantik yaitu makna kata-kata dalam bahasa tertentu. Setiap kata memiliki seperangkat ciri-ciri simantik yang unik (Wax Man 7 Lidz,2006). Contohnya Girl dan Woman memiliki banyak cirri simantik yang sama maksudnya keduanya sama-sama menandakan orang yang berjenis kelamin wanita, tetapi mereka berbeda secara simantik dalam kaitan usia. Kata-kata memiliki batasan-batasan simantik tentang bagaimana mereka digunakan dalam kalimat-kalimat. Contohnya kalimat “Sepeda berbicara pada anak itu untuk membeli sebuah permen” , dalam hal ini dijelaskan secara sintaksis tepat, namun secara simantik kalimat ini melanggar pengetahuan semantic karena sepeda tidak dapat berbicara.
Perkembangan Bahasa : Mengoceh
Bagi orang tua,suara dari bayi mereka yang mengoceh dan berdekut adalah musik bagi telinga mereka (kecuali, mungkin pada jam 3 dini hari). Ketika mengoceh, mereka menghasilkan suara yang tidak hanya ditemukan dalam bahasa sehari-hari oleh orang di sekeliling mereka. Bahkan anak tuna rungu juga memperlihatkan bentuk ocehan mereka, bagi bayi yang tidak dapat mendengar mereka diperkenalkan bahasa isyarat sejak bayi,”ocehan” dengan tangan mereka.
Meskipun demikian, setelah usia 6 hingga 8 bulan, kemampuan tersebut menurun. Bayi mulai ahli dalam bahasa yang dikenalkan pada mereka karena neuron diotak mengorganisasi secara rutin untuk merespon fonem tertentu.
Pada usia sekitar 1 tahun, mereka mampu mengahasilkan kata-kata singkat  dengan suara awal konsonan b, d, m, p, dan t. Hal ini menjelaskan mengapa kata mama dan dada adalah kata pertama yang sering diucapkan oleh bayi.




BERPIKIR DAN BAHASA
Pengaruh Bahasa terhadap Pikiran
Bahasa adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu didalamnya, yaitu segala sesuatu mampu termuat dalam lapangan pemahaman manusia. Oleh karena itu memahami bahasa akan memungkinkan untuk memahami bentuk-bentuk pemahaman manusia. Bahasa adalah media manusia untuk berpikir secara abstrak dimana objek-objek faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai tentang sebuah objek, meskipun objek itu tidak terinderakan saat proses berpikir itu dilakukan olehnya (Suriasumantri, 1998).
            Ernst Cassier menyebut manusia sebagai animal symbolicum, makhluk yang menggunakan simbol. Secara generik ungkapan ini lebih luas daripada sekedar homo sapiens. Bagi Cassier, Keunikan manusia sebenarnya bukanlah sekedar terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannnya berbahasa. Seorang filsuf kenamaan, H.G. Gadamer, menyatakan bahwa status manusia tidak dapat melakukan apa-apa tanpa menggunakan bahasa. Dalam satu pernyataannya yang terkenal, secara jelas pula seorang filosof bahasa, Ludwid Van Wittgenstein, mengatakan bahwa batas dunia manusia adalah bahasa mereka (Sumaryono, 1993). Sebuah uraian yang cukup menarik mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikir dinyatakan oleh Whorf dan Saphir. Whorf dan Sapir melihat bahwa pikiran manusia ditentukan oleh sistem klasifikasi dari bahasa tertentu yang digunakan manusia (Schlenker, 2004). Menurut hipotesis ini, dunia mental orang Indonesia berbeda dengan dunia mental orang Inggris karena mereka menggunakan bahasa yang berbeda. Hubungan antara bahasa dan pikiran adalah sebuah tema yang sangat menantang dalam dunia kajian psikologi. Sejarah kajian ini dapat ditilik dari psikolog kognitif, filosuf dan ahli linguistik. Hipotesis Whorf dan Sapir menyajikan sesuatu yang sangat menantang untuk ditelaah lebih lanjut. Beberapa aspek bahasan yang mempengaruhi pikiran perlu diidentifikasi lebih lanjut, misalnya identifikasi aspek bahasa yang mempengaruhi penalaran ruang bidang (reasoning spatial) dan aspek bahasa yang mempengaruhi penalaran terhadap pikiran lain (reasoning about other minds).  Sapir dan Worf mengatakan bahwa tidak ada dua bahasa yang memiliki kesamaan untuk dipertimbangkan sebagai realitas sosial yang sama. Sapir dan Worf menguraikan dua hipotesis mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikiran.
1. Hipotesis pertama adalah lingusitic relativity hypothesis yang menyatakan bahwa perbedaan struktur bahasa secara umum paralel dengan perbedaan kognitif non bahasa (nonlinguistic cognitive). Perbedaan bahasa menyebabkan perbedaan pikiran orang yang menggunakan bahasa tersebut.
2. Hipotesis kedua adalah linguistics determinism yang menyatakan bahwa struktur bahasa mempengaruhi cara inidividu mempersepsi dan menalar dunia perseptual. Dengan kata lain, struktur kognisi manusia ditentukan oleh kategori dan struktur yang sudah ada dalam bahasa.

Berpikir dan bahasa erat terkait dengan fenomena. Meskipun kita sering berpikir dalam gambar visual, suara, dan gambar gerakan-dan beberapa pemikiran mungkin melibatkan gambar tidak sadar sama sekali - jauh pemikiran kita berlangsung dalam bentuk percakapan diam dengan diri kita sendiri. Jika hal ini benar, apakah bahasa mengerahkan pengaruh pada pemikiran kita? Jika demikian, ada kemungkinan bahwa orang-orang yang berbicara bahasa yang berbeda mungkin berpikir agak berbeda.
            Hipotesis ini  dinyatakan oleh Benjamin Whorf (1956) dan dikenal dengan Hipotesis Whorfian,atau Hipotesis Relativitas Bahasa. Meskipun Whorf tidak terlalu fokus dengan dampak dari bahasa yang berbeda dalam pikiran orang-orang dari budaya yang berbeda,  contoh konkretnya tentang bagaimana ini bisa terjadi secara umum memperhatikan hubungan antara bahasa dan persepsi. Sebagai contoh, suku Eskimos memiliki beberapa kata untuk mengungkapkan salju dan dapat menggambarkan berbagai jenis salju yang berbeda , katakanlah, warga abadi dari Florida. Apakah fakta bahwa suku Eskimos memiliki lebih banyak kata untuk menggambarkan jenis salju yang  berbeda- berarti bahwa tambahan kata-kata mereka mengubah persepsi  mereka terhadap salju ? Whorf mengusulkan bahwa keberadaan kata-kata ini dalam kosakata suku Eskimos mengubah persepsi visual.  Itu terlihat paling sedikit masuk akal untuk mengasumsikan bahwa suku Eskimos pertama-tama belajar untuk melihat lapisan perbedaan antara kata-kata yang bervariasi tentang salju dan setelah itu menjadikan sebuah kosakata untuk dibicarakan diantara mereka dan yang lainnya.
            Tes dari Whorfian, atau relativitas bahasa, hipotesis ditampilkan dengan sebuah percobaan berdasarkan fakta yang pada setiap bahasa mengandung istilah yang merujuk kepada “tipe kepribadian” yang penting disetiap kebudayaan. Sebagai contoh,kebanyakan dari kita mengerti bahwa “tipe artistik” adalah seorang yang tertarik pada bidang seni, imajinasi, kuat/tajam, suasana hati, dan tidak biasa. Setiap bahasa mengandung seperti istilah, tetapi tidak setiap bahasa memiliki istilah untuk menggambarkan tipe kepribadian yang sama. Sebagai contoh, bahasa Cina tidak memiliki istilah untuk tipe artistik, namun bahasa Cina mengandung penamaan untuk tipe kepribadian lain yang tidak ditemukan dalam bahasa Inggris. Contoh, tipe “shēn cha̒ng bū lò̀u” diakui oleh orang yang berbicara dalam bahasa Cina menjadi seseorang yang sangat berpengetahuan namun juga sangat malu dimana seseorang itu enggan untuk mengungkapkan pengetahuan atau ketrampilannya kecuali benar-benar diperlukan.
            Hipotesis Whorfian menyarankan bahwa penamaan untuk tipe personaliti mempengaruhi bagaimana kita berpikir tentang orang. Apakah benar mereka seperti itu ? Pembicara fasih dari Inggris membandingkan ingatan mereka untuk, dan penalaran tentang, hipotesis orang yang memiliki tipe kepribadian digambarkan dengan percobaan. Individu yang memiliki bahasa yang mengandung penamaan untuk tipe kepribadian tertentu digambarkan dengan percobaan yang dapat menarik hipotesis orang lebiih mudah dan pikiran tentang mereka dengan cara yang lebih konsisten dengan tipe kepribadian. Contoh, peserta penelitian berbicara-bahasa Inggris mengingat karakteristik dari hipotesis orang digambarkan sebagai astistik lebih sering dan beralasan tentang tipe artistik dalam cara yang dicerminkan
gambaran tentang kepribadiannya lebih akurat daripada peserta penelitian  berbicara-bahasa Cina. Sesuatu yang berlawanan ini benar tentang tipe shēn ca̒ng bū lòu. Dalam hal ini, kata-kata dalam bahasa kita tampaknya mempengaruhi pikiran kita.
            Relativitas bahasa menuntun kita untuk menguji kembali beberapa penggunaan bahasa yang umum. Oranng-orang focus tentang keadilan gender yang telah melobi substitusi dari istilah gender-netral untuk istilah kemaskulinan yang tidak biasa,seperti pada kasus perubahan chairman menjadi chairperson. Jika Whorf benar, penggunaan chairman mungkin dengan halus mempengaruhi cara kita berpikir tentang kampuan dari perempuan untuk layak dalam peran kepeminpinan. Meskipun beberapa perubahan awalnya terlihat aneh  untuk sebagian orang (server menjadi waiter atau waitress), mereka tampaknya akan dengan cepat berbicara melalui penggunaan umum.
 Bahasa Binatang : Dapatkah Kita Berbicara dengan Hewan ?
            Meskipun manusia memiliki bahasa paling fleksibel  dan bahasa simbolik untuk proporsi berkomunikasi, kita tidaklah satu-satunya spesies yang dapat berkomunikasi. Lebah, contohnya, menggunakan sebuah sistem sedehana namun elegan untuk mengkomunikasikan pesan  seperti bunga-bunga mengandung sebuah persediaan nectar sekitar  200 meter dari garis yang dan 20 derajat ke selatan dari sudut matahari. Lebah yang menemukan nectar memberitahu lebah lain tentang nektar tersebut tidak melalui perkataan atau tulisan tapi melalui tarian simbolik.



KASUS
          Seorang petugas lalu lintas udara yang bertanggung jawab mengontrol keselamatan penumpang pesawat dan mengatur pergerakan lalu lintas penerbangan agar pesawat terbang dalam jarak yang aman antara satu dan lainnya. Pekerjaan yang sepertinya mudah, namun sesungguhnya sulit.
            Ada sebuah pesawat terbang di ketinggian tertentu 15 mil dari bandara dan ada sebuah pesaawat lagi berada di posisi 20 mil dari bandara daari arah yang berlainan. Pada saat yang sama ada sebuah pesawat yang hendak lepas landas dari bandara . Apa yang dilakukan ?

            Sebagai petugas lalu lintas tentu harus membuat keputusan cepat dan itu poinnya. Petugas lalu lintas bandara harus mengumpulkan informasi terbaru terus-menerus dan mengetahui apa yang terjadi setiap menitnya, setiap detiknya. Kuncinya adalah berpikir cepat dan berkomunikasi jelas. Banyak tekanan dan konsekuensinya bisa berupa malapetaka.
            Seorang psikolog kognitif memandang profesi lalu lintas udara tentunya akan membagi profesi pengontrol lalu lintas menjadi beberapa tugas sesuai proses kognitifnya masing-masing. Pembagian mungkin terdiri dari beberapa proses, yaitu :
(i)                 input eksternal, berupa laporan cuaca
(ii)               atensi selektif dari input eksternal
(iii)             pembentukan representasi internal yang disimpan memori
(iv)             pengambilan keputusan dan perencanaan
(v)               pengambilan tindakan seperti mengetik atau berkomunikasi dengan pilot

Petugas pengontrol lalu lintas udara dipilih berdasarkan kemampuan kognitif mereka, namun sesungguhnya segala jenis pekerjaan apapun dilandasi oleh proses kognitif yang besar.

Thursday, June 12, 2014

Analisa Pedagogi berdasarkan Pengalaman Pribadi

Pedagogi adalah strategi pembelajaran yang dibuat khusus untuk kebutuhan anak-anak. Dimana anak-anak sebagai murid yang berperan pasif dan guru sebagai pengajar yang berperan aktif contohnya yaitu saat di Sekolah Dasar.
Saya ingat pada saat saya masih di Sekolah Dasar (SD), proses belajar mengajar masih didominasi oleh guru karena konsep diri pada anak-anak masih dalam tahap ketergantungan yaitu siswa belum dapat menentukan/memilih sesuatu sendiri. Masih memerlukan bantuan dari guru contohnya saja ketika mengerjakan tugas. Saat itu saya masih belum mengerti apa yang harus saya kerjakan sehingga saya harus dibantu oleh guru saya. Saya juga masih ingat waktu itu teman-teman sekelas saya yang laki-laki sangat sulit disuruh berbaris sampai-sampai guru wali kelas harus turun tangan untuk menertibkan mereka di barisan.
Orientasi pembelajaran anak dipusatkan pada inti-inti pokok mata pelajaran saja contohnya seperti saat saya masih di jenjang persekolahan, hal-hal yang dipelajari masih berbau teoritis dan belum membahas tentang permasalahan sehari-hari yaitu seperti mata pelajaran fisika yang membahas tentang perhitungan jarak kota A ke B dan berapa kecepatan dan waktu yang ditempuh untuk dapat sampai di kota B. Hal tersebut belum perlu diaplikasikan oleh anak sekolah dalam kehidupan sehari-hari atau pengaplikasian mata pelajaran tersebut ditunda sampai ia membutuhkan pengaplikasian pelajaran tersebut misalnya jika ia ingin mengambil jurusan teknik di jenjang perkuliahan.
Seperti yang telah saya jelaskan di atas, pedagogi adalah strategi pembelajaran dimana guru/pengajar sangat berperan aktif  yaitu guru mengontrol waktu dan kecepatan. Sama seperti yang saya alami ketika masih dalam jenjang SD, ketika kami diberi PR (Pekerjaan Rumah) oleh guru, kami diingatkan terus menerus agar jangan lupa mengerjakan PR. Jika kami lupa mengerjakan PR, kami akan dihukum dan saya pernah mengalaminya. Saya lupa mengerjakan PR sehingga saya diberi tugas untuk menulis kalimat “Saya Tidak Akan Lupa Mengerjakan PR Lagi” sebanyak 30 halaman. Itu bukti bahwa guru/pengajar mempunyai kontrol yang besar terhadap proses belajar mengajar.
            Pedagogi yaitu dimana guru merupakan sumber utama dalam memberikan ide-ide atau contoh-contoh. Seperti yang pernah saya alami yaitu saat saya kelas 6 SD, ada mata pelajaran seni dimana kami mempelajari hal sulam-menyulam. Kami sebagai siswa yang belum berpengalaman dan tidak tahu bagaimana cara menggunakan jarum, benang dan sebagainya harus diberi contoh dahulu agar selanjutnya kami dapat mengerjakan tugas menyulam yang diberikan. Kami juga disarankan untuk membeli buku tentang contoh-contoh membuat sulaman yang baik. Disini terlihat bahwa guru menjadi sumber utama dalam memberikan ide dan contoh karena anak-anak belum mengerti apa yang harus mereka lakukan jika tidak diberi arahan oleh guru.
             Pada pedagogi, evaluasi pembelajaran dilakukan oleh guru karena anak-anak belum terlalu memikirkan pengalaman belajar mereka meskipun diadakan ujian pada murid, hasil ujian tersebut berfungsi untuk evaluasi pengajaran guru, apakah mereka sudah mengajar dengan benar sehingga murid dapat mengerti apa yang mereka ajarkan. Tujuan-tujuan pembelajaran semuanya ditentukan oleh guru. Contohnya yaitu saat saya di jenjang SD dan SMP, teman sebangku di kelas harus ditentukan oleh guru dan teman sebangku biasanya dipasangkan laki-laki dengan perempuan dan tidak boleh duduk dengan teman dekat agar murid dapat berkonsentrasi belajar tanpa harus berbicara dengan teman dekat.

            Meskipun pedagogi didominasi oleh peran guru, tetapi murid-murid sudah mulai bersifat kompetitif yaitu contohnya ketika saya pada saat SD mendapat nilai jelek, saya merasa malu ketika ditanya oleh teman berapa nilai ujian saya karena teman yang bertanya tersebut mendapatkan nilai baik. Saya juga ingat pada saat itu di sekolah saya diadakan pelajaran tambahan bagi siswa yang kurang berhasil dalam ujian. Ini bukti bahwa guru bersikap melayani murid karena jika guru tidak mengadakan pelajaran tambahan, murid-murid mungkin akan gagal dalam ujian-ujian selanjutnya.

Saturday, April 19, 2014

Laporan Observasi

Kelompok                   :  4
Ketua Kelompok         :  Nanda Lukita Audi (101301105)
Anggota Kelompok    :    Ilmi Khoir Purba (131301003)
                                                   Felix Christian Sianturi (131301111)
                                                   Evelyn (131301135)
                                                   Yunike Mariana (131301137) 
       A.    EVALUASI
Observasi dimulai dengan mencari sekolah mana yang akan menjadi objek observasi. Awalnya kelompok kami ingin melakukan observasi di SD Taman Siswa yang berada di Setia Budi, namun pihak sekolah tidak mengizinkan untuk melakukan penelitian. Akhirnya kami mencari sekolah lain yang tidak jauh dari SD tersebut. Sekolah yang menjadi objek observasi kami yaitu Taman Kanak-kanak Khansa Medan.
Ketika sampai di TK tersebut kami disambut dengan hangat oleh Kepala Sekolah dan Guru-guru yang berada di sana. Kami menyampaikan tujuan kami untuk melakukan observasi, dan Ibu Kepala Sekolah menyetujuinya. Dengan syarat membawa surat izin dari fakultas.
Pada tanggal 4 April 2014,  kami melaksanakan observasi. Setiap anggota kelompok telah memiliki tugas masing-masing. Kami melaksanakan observasi sesuai dengan tugas yang diberikan, dan saling membantu jika sesama anggota ada yang kesulitan.
Kami melakukan wawancara dengan Kepala Sekolah dan para guru untuk mengetahui bagaimana sikap anak-anak sehari-hari, materi pelajaran yang diberikan, jumlah uang sekolah, dan lama waktu belajar.
Observasi dilakukan selama 40 menit, dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai pukul 08.40 WIB. Observasi yang dilakukan berjalan dengan lancar dan kami mendapatkan informasi tentang bagaimana proses pembelajaran, sikap anak serta pengaruh lingkungan sekolah terhadap perkembangan kognitif anak.
      Evaluasi Pribadi
Pada saat melakukan pencarian sekolah, saya merasa gugup karena saya takut tidak mendapatkan sekolah untuk diobservasi. Kelompok kami awalnya mau melakukan observasi ke SD Taman Siswa yang berada di Jalan Setiabudi. Namun, pihak sekolah tidak mengijinkan kami untuk melakukan observasi di sana. Saya merasa sedikit kecewa, tetapi saya tidak putus asa dan tetap mencari sekolah bersama teman-teman di keompok. Akhirnya, setelah mencari sekolah di sekitar setiabudi pasar.1, kami menemukan TK Khansa.
Ketika sampai disana kami disambut baik oleh kepala sekolah dan guru-guru. Kami pun mengungkapkan tujuan kami dating ke sekolah tersebut dan Ibu Kepala Sekolah langsung mengijinkan kami untuk melakukan observasi. Saya bersyukur karena akhirnya kami mendapatkan sekolah untuk diobservasi.
Pada saat melakukan observasi, saya merasa senang melihat anak-anak TK yang begitu antusias dalam mengikuti semua kegiatan sekolah dan saya juga kagum melihat murid-murid TK Khansa yang sudah diajarkan mandiri sejak kecil seperti meletakkan sepatu sendiri ke dalam rak yang sudah disediakan. Melihat murid-murid yang antusias, saya juga menjadi semangat dalam melakukan observasi. Observasi kami pun berjalan dengan lancer dan kami banyak mendapatkan informasi-informasi baru.
     B.     PROFIL SEKOLAH
Nama Sekolah                   :   YAYASAN PENDIDIKAN KHANSA MEDAN
Alamat Sekolah                 :    Jl. Setia Budi Pasar I No 60 Tanjung Sari Kec. Medan Selayang
Telepon                             :    061-8214315
Uang Sekolah                    :    TK A dan TK B = Rp.150.000
                                                Playgroup = Rp.180.000
Jumlah Kelas                     :    6
                                               TK A = 2 kelas
                                                TK B = 3 kelas
                                                Playgroup = 1 kelas

     C.    LAPORAN OBSERVASI
~ Tanggal Observasi   :    4 April 2014
Waktu                               :    08.00-08.40 WIB
Pembagian Tugas              :    Wawancara            : Nanda Lukita Audi (101301105)
                                                                                Yunike Mariana (131301137)
                                               Notulen                  : Ilmi Khoir Purba (131301003)
                                               Dokumentasi           : Felix christian sianturi (131301111)
                                                                                  Evelyn (131301135)
Narasumber                       :    Zunaidar nasution S.Pd (Kepala Sekolah)
                                               Seluruh Guru TK Khansa
Suasana Observasi            :    Suasana observasi sangat menyenangkan. Observasi dilakukan di dalam dan di luar ruangan. Para guru pengajar sangat ramah dan bersahabat. Mereka banyak memberitahu kami informasi tentang pembelajaran yang dilakukan.
            ~Profil Kelas : Playgroup (1 kelas)
                     
              TK A             (2 kelas)
                       
            TK B             (3 kelas)
Perlengkapan di kelas :
- Whiteboard               - Lemari
- Jam Dinding             - Kipas Angin
- Mainan                      - Tong Sampah
- Meja (4-5 buah)        - Hiasan Dinding
    D.   POIN-POIN LAPORAN HASIL OBSERVASI
1     .      Sebelum Masuk Kelas: Murid  berbaris dan senam yang dipimpin oleh beberapa murid yang sudah dilatih dan para guru mengikuti dari belakang murid-murid yang lain.
Selesai senam, guru memilih murid yang melskuksn senam dengan baik, serta diam dan tertib kuntuk pertama masuk kelas.
Murid-murid sudah diajari untuk mandiri dengan cara meletakkan sepatu sendiri di rak sepatu yang sudah disiapkan.
2    .      Di kelas: guru berbicara dengan murid-murid secara lugas dan murid mengerti apa yang dikatakan. Murid juga terlihat menghargai guru yang berbicara tetapi ada beberapa murid yang masih kurang konsentrasi dan tertarik melihat sesuatu yang baru dan berdasarkan body language murid-murid tersebut, mereka terlihat semangat dalam mengikuti setiap kegiatan sekolah.
Materi pelajaran setiap hari mencakup:
-          Pembukaan            : Tanya Jawab            
-          Inti                                    : Seni                        Sesuai tema setiap harinya
-          Penutup                 : Menyanyi
3    .      Setting ruangan kelas: tata letak barang-barang dan alat-alat belajar tersusun  rapi sehingga kelas terlihat nyaman. Perabotan dan barang-barang di dalam kelas sangat menarik karena berwarna-warni dan terdapat mainan-mainan yang dapat meningkatkan minat murid-murid di setiap kelas.
4     .      Setting sekolah secara keseluruhan: Jumlah keseluruhan kelas ada enam yang terdiri dari TK A dua kelas, TK B tiga kelas, dan playgroup satu kelas. Terdapat halaman yang cukup luas untuk murid-murid berbaris atau senam dan terdapat fasilitas berbagai jenis mainan seperti jungkat-jangkit, ayunan, perosotan dan yang lainnya. Murid-murid dapat bermain dalam waktu senggang.

      E.     ANALISIS TEORI BELAJAR
Setelah melakukan observasi di TK Khansa ada banyak informasi yang kami peroleh seperti bagaimana cara para guru mengajar, bagaimana proses belajar berlangsung dan apa saja yang dipelajari oleh anak-anak setiap hari.
Menurut kami para guru yang mengajar di sana memiliki cara mengajar yang efektif. Mereka memiliki Pengetahuan dan Keahlian Profesional. Ini dapat terlihat karena:
·         Mereka menguasai materi pelajaran yang disampaikan
·         Mereka memilki strategi pengajaran yang baik dan mampu menarik perhatian anak-anak untuk melihat dan melakukan himbauan mereka. Contohnya, ketika sampai di TK para anak dengan  gembira bermain degan teman-teman mereka, namun ketika pukul 08.00 WIBmereka disuruh untuk berbaris dan mengikuti senam pagi. Walaupun mereka sedang asyik bermain, para guru memiliki strategi untuk mengajak mereka senam dan meninggalkan permainannya.
·         Para guru memiliki keahlian motivasional. Contohnya, ketika beberapa anak ada yang merasa bosan dan tidak melakukan gerakan senam, para guru dengan semangat mengajak mereka untuk senam kembali.
·         Para guru juga memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Contoh, ketika ada anak yang menangis mereka mampu membujuk anak tersebut.
·          Dari semangat yang terlihat ketika mengajar menunjukkan mereka memiliki komitmen yang tinggi untuk mengajar.
Ada beberapa rangkaian kegitan yang kami observasi di antaranya yaitu:

Senam pagi (Pembelajaran Observasional)
Pembelajaran Observasional juga disebut sebagai imitai atau modelling, adalah pembelajarn yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain.
Ketika melakukan senam, ada beberapa orang anak yang telah mahir berada di depan anak-anak lain yang sedang berbaris. Merekalah yang menjadi model. Anak-anak lain mengikuti gerakan mereka.
Ada beberapa proses yang terjadi ketika modelling, yaitu:
1.      Atensi
Atensi merupakan proses memberikan perhatian pada perilaku yang dilakukan model.
Dalam observasi kami, terlihat bagaimana anak-anak yang masih kecil khusunya yang berada pada tingkat playgroup memperhatikan gerakan yang dilakukan oleh model yang berada di depan.
2.      Retensi
Retensi merupakan proses mengingat apa yang telah diperhatikan melalui tahap atensi. Di sinilah ingatan atau memory berperan.
Setelah anak-anak memerhatikan gerakan, mereka  terlihat seperti berpikir dari raut wajah mereka. Ini menandakan bahwa mereka mulai mengingat gerakan yang telah mereka lihat dan memasukkannya ke dalam memory.
3.      Produksi
Produksi merupakan proses si mana terjadi peniruan atau imitasi. Di tahap ini mereka menggunakan menggunakan memory mereka. Gerakan yang telah mereka ingat, mereka gunakan untuk  malakukan gerakan yang sama.
Anak-anak terlihat mulai melakukan gerakan senam seperti yang dilakukan oleh model (teman mereka). Namun gerakan yang mereka lakukan tidak sebaik gerakan yang model lakukan, ini sebabkan karena keterbatasan dalam kemampuan kinerja motor mereka. Gerakan akan semakin baik jika anak terus melatih gerakan senam.
4.      Motivasi
Motivasi mmerupakan penguatan atau dorongan yang ada untuk melakukan perilaku. Sering kali anak telah memerhatikan, mengingat dan meniru gerakan model namun Ia tidak termotivasi, ini akan menyebabkan mereka kurang bersemangat ntuk meniru model.
Ini tampak ketika guru memberikan senyuman kepada anak yang melakukan gerakan senam dengan baik. Senyuman inilah yang disebut sebagai penguat (reward). Setelah selesai senam kami juga melihat para guru akan memilih anak-anak yang melakukan gerakan senam dengan baik untuk masuk ke kelas terlebih dahulu. Dan anak-anak yang kurang bagus dalam melakukan senam dan anak-anak yang ribut akan masuk lebih lama. Inilah hukuman (punishment) yang mereka terima. Semakin lama mereka tidak bisa tenang maka semakin lama pula mereka masuk kelas. Hukuman ini membuat para murid lebih tertib dan semangat untuk melakukan senam dengan baik di keesokan harinya.
Di TK ini anak-anak juga mulai diajarkan untuk mandiri, sebelum mereka memasuki ruang kelas, mereka membuka sepatu mereka sendiri dan meletakkannnya di rak yang telah tersedia.
Modelling juga  dilakukan ketika anak-anak menari, mereka menari di sebuah ruangan, ada seorang guru yang memandu mereka. Dengan lincah anak-anak melakukan tarian. Tarian dilakukan oleh sesama anak-anak perempuan, dan anak laki-laki bersama anak laki-laki.
Anak-anak perempuan lebih dahulu menari sedangkan anak-anak laki-laki berada di dalam kelas. Sambil menunggu, mereka disuruh untuk mewarnai gambar. Di sini mereka mengeluarkan kreativitas mereka untuk mencocokkan wana dengan gambar yang mereka pilih.
Keteika anak-anak perempuan selesai menari, anak-anak laki-laki yang mendapat giliran, dan anak-anak perempuan kembli ke dalam kelas untuk mewarnai gambar.
            Praktek Sholat Duha (Teori Vygotsky: Scaffolding)
Scaffolding merupakan teori Vygotsky berupa teknik untuk mengubah level bantuan belajar. Bantuan biasanya dilakukan guru atau teman. Guru yang sebelumnya memberi instruksi langsung lama-kelamaan tidak memberikan instruksi lagi, karena para murid telah mengerti membuat kreativitas sendiri, saat kemampuan meningkat maka semakin sedikit bimbingan yang diberikan.
Dalam observasi, kami melihat ketika melakukan sholat duha mereka berbaris di dalam satu ruangan baik anak TK A, TK B, maupun playgroup.
Ada seorang guru yang mamandu di depan kelas, dan guru-guru lainnya berbaur dengan murid untuk mengawasi mereka ketika melakukan sholat. Ada yang berada di belakang, di samping, dan di tengah-tengah anak-anak.
Ketika sholat dimulai guru yang memandu di depan memberi instruksi langsung, dengan membaca niat sholat. Dengan spontan semua anak ikut membaca niat sholat. Dilanjutkan dengan membaca Al-Fatihah, surat pendek, dan yang lainnya.
Ketika melakukan sholat ada beberapa anak yang bermain dengan temannya, dengan lembut guru tersebut menyuruh anak itu melakukan sholat kembali. Namun ada juga anak yang tidak mendengar teguran lembut dari guru, sampai guru tersebut membantu anak untuk melakukan gerakan sholat.
Selesai sholat, guru kembali memberi instruksi dengan mengucapkan dzikir, anak-anak langsung mengikuti berdzikir juga.
Ketika semua murid telah mengucapkan dzikir, lama kelamaan guru berhenti berdzikir dan membiarkan mereka untuk melakukan dzikir sendiri. Namun jika mereka mulai terlihat tidak bersemangat guru kembali ikut berdzikir dan anak-anak semangat kembali.
Konteks Sosial dan Perkembangan Sosioemosional (Teori Rentang Hidup Erikson)
            Menurut Erikson ada delapan tahap perkembangan manusia, anak-anak TK Khansa berada dalam rentang umur 3-5 tahun. Berdasarkan teori Eriksom mereka berada dalam tahap inisiatif vs. rasa bersalah (kanak-kanak awal).
            Dalam tahap ini anak-anak menjadi lebih aktif dan tindakannya memiliki tujuan. Di sini mereka akan mulai bertanggung jawab, untuk memunculkan rasa tanggung jawab membutuhkan inisiatif. Anak akan mengembangkan rasa bersalah apabila mereka tidak bertanggung jawab atau cemas.
            Dalam observasi kami melihat ketika ada anak yang terlambat mereka bersikap diam, menundukkan kepala, merasa malu, dan ragu untuk bergabung senam pagi dengan teman-temannya.
            Anak-anak TK Khansa juga memiliki rasa inisiatif. Tanggung jawab yang mereka menunjukkan inisiatif tersebut. Setelah bertanya pada guru-guru, kami mengetahui bahwa mereka latihan menari karena keesokan harinya mereka akan mengikuti lomba menari.
           
TK Khansa tidak hanya menuntut anak untuk belajar, namun mereka juga memahami bahwa dalam tahap ini anak-anak lebih mengembangkan diri mereka dengan bermain dan berinteraksi dengan teman sebayanya. Para guru tidak pernah memarahi anak jika terkadang mereka bermain atau tidak fokus dalam pembelajran. Pada hari sabtu anak-anak juga diajak untuk menonoton film bersama. Film yang disajikan juga film yang sesuai dengan umur dan perkembangan anak.
Bagi anak-anak yang berada dalam tingkat playgroup juga tidak dibebani dengan pelajaran. Mereka hanya diajarkan bagaimana memegang pensil, menulis. Namun mereka lebih dominan dibebaskan untuk bermain.
     F.     KESIMPULAN
Kesimpulan Kelompok:
·         Pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai metode, dan metode yang digunakan juga harus sesuai dengan jenis pembelajaran yang akan dipelajari.
·          Bagi anak-anak TK, keefektifan dan pengetahuan guru juga sangat dibutuhkan karena pada tahap usia ini, mereka lebih cepat mempelajari sesuatu jika dilihat secara langsung. Kita dapat menggunakan Teori Behaviouris : Modelling dan Vygotsky (Scaffolding).
·          Pembelajaran ini sangat efektif bagi anak-anak yang berada pada tahap inisiatif vs malu dan ragu.
      G. DOKUMENTASI