Wednesday, June 24, 2015

Evaluasi Performa Andragogi Kelompok 3

“Cyberbullying”


Oleh:
Kelompok 3
Yunike Mariana             (13-137)


Bullying adalah fenomena yang kerap terjadi & tidak asing lagi di telinga kita. Ada beberapa jenis bullying. Salah satunya adalah cyberbullying.  Jenis bullying ini masih kurang commonbagi orang Indonesia dan bahkan beberapa dari kita belum mengetahui seperti apa cyberbullying itu. 

Kurangnya pengetahuan mengenai cyberbullying berdampak pada terjadinya cyberbullying dengan intensitas yang cukup tinggi. Pada awal tahun 2015, muncul berbagai cercaan terhadap Haji Lulung melalui meme yang tersebar di jejaring sosial, mulai dari facebook, youtube, instagram, bahkan path. Haji Lulung menyatakan ketidaksenangannya atas 'lucu-lucuan' tentang dirinya yang beredar di dunia maya pada salah satu stasiun televisi Indonesia dalam suatu acara outdoor talk show. Selain Haji Lulung, Brigadir Dewi Sri Mulyani dengan kalimat"disitu kadang saya merasa sedih" juga menjadi bahan tertawaan masyarakat Indonesia. Ia menyatakan kekecewaannya terhadap gambar-gambar dan video yang diedit sedemikan rupa yang beredar di jejaring sosial melalui suatu acara talkshow di salah satu stasiun televisi Indonesia.

Cyberbullying bersifat subjektif. Walaupun demikian, kita dapat mempelajari, mengenali, dan peka terhadap hal ini. Pembelajaran dapat dilakukan dengan teknik proyektif. Pembelajaran dengan teknik proyektif dapat menjaga self-esteem seseorang. Melalui teknik proyektif, fasilitator menyajikan cerita lewat ilustrasi gambar dan video yang diakhiri dengan sesi diskusi. Pada sesi diskusi, peserta didik mengungkapkan perasaannya, tata nilai, keinginannya atau apa yg ingin dilakukan (insight) sesudah mendapatkan novel knowledge mengenai cyberbullying.

Teman-teman terdekat menjadi sasaran pembelajaran ini dengan harapan bahwa mereka selanjutnya akan menjadi agent of change. Harapan kecil yang kami inginkan pada keenam orang teman terdekat ini adalah dapat mencegah cyberbullying atas dirinya dan atas orang lain, juga dapat mengatasi masalah apabila suatu ketika ia menjadi korban cyberbullying. Harapan yang lebih besar adalah mereka bisa membagikan pengetahuan tersebut kepada orang-orang disekitarnya dan mampu mengontrol diri untuk tidak melakukan cyberbullying. Dampak dari pembelajaran yang mungkin akan dirasakan oleh peserta didik apabila ia pernah menjadi korban bully adalah bahwashe's not alone. Ada orang lain yang pernah menjadi korban bullying juga. Peserta didik ini dapat melihat bahwa ada orang-orang yang peduli terhadap korban cyberbullying, ada orang-orang yang berusaha mencegah cyberbullying. Hal ini mungkin dapat memberikan sedikit kelegaan untuknya dan mencegahnya untuk mem-bully orang lain karena beberapa korban bullying dinyatakan berpotensi balik melakukan bullying terhadap orang lain, membalaskan apa yang pernah ia rasakan.

Teman-teman terdekat diajak menjadi peserta didik tidak hanya berdasarkan kepraktisan tetapi juga atas kepedulian kelompok terhadap pengalaman yang kami dengar dari beberapa peserta didik dan beberapa anggota kelompok yang pernah menjadi korban bullying dan pelaku bullying. Waktu dan tempat pelaksanaan di Lantai II Gedung C Fakultas Psikologi dipilih berdasarkan hasil diskusi kelompok 3 dengan peserta didik karena pertimbangan cuaca dan udara yang cukup panas pada saat itu. Peserta didik menginginkan kenyamanan saat proses berlangsung, maka dari itu mereka memilih untuk duduk di lantai gedung dan beberapa kali jeda untuk merenggangkan badan dan urusan ke belakang. Kelompok menyediakan minuman teh dalam kemasan, masing-masing mendapat satu agar peserta tidak kehausan. Peralatan yang akhirnya kami pergunakan saat pelaksanaan adalah sebuah laptop dan dua kamera smart phone untuk merekam dokumentasi dari dua sisi, depan dan belakang peserta didik. 

Dari hasil diskusi di akhir sesi, seorang peserta didik yang merupakan korban bullying yang kemudian menjadi pelaku bullying menyatakan bahwa ia merasa kasihan pada Amanda Todd yang berjuang untuk menghapuskan cyberbullying terhadapnya dan kemudiaan ditemukan tewas di kamar apartemennya setelah beberapa kali percobaan bunuh diri. Ia mengatakan bahwa seharusnya teman-teman sekolah Amanda Todd berhenti melakukan cyberbullying, menghapus gambar tersebut dari media sosial, dan membantunya untuk bangkit setelah Amanda Todd menyatakan bahwa ia depresi. Peserta didik yang lain menyatakan bahwa kenapa orang-orang disekitar Amanda Todd itu tidak dapat membantu, tidak dapat mencegah Amanda Todd untuk bunuh diri lagi, atau membawanya ke psikiater atau psikolog untuk terapi atau diberikan penanganan. Seharusnya ada yang bisa yang bisa membantu dari sekian banyak orang disekitarnya, minimal sahabatnya sendiri atau keluarganya. Peserta didik yang lain juga ikut mengungkapkan bahwa pembelajaran ini bermanfaat bagi mereka yang sebelumnya tidak tahu bahwa 'lucu-culuan' ini termasuk cyberbullying, bagaimana perasaan mereka, menceritakan keadaan tokoh-tokoh yang ditayangkan dalam video, dan apa yang dapat mereka lakukan setelah ini seperti lebih aware apabila mengetahui adanya cyberbullying atau tanda-tanda terjadinya cyberbullying terhadap seseorang disekitarnya. Selanjutnya mereka dapat membantu teman-temannya atau keluarganya apabila menjadi korban cyberbullying. Salah satu peserta didik yang pernah menjadi korban cyberbullying menyatakan bahwa tokoh animasi tersebut akhirnya mengatasi masalahnya dengan bantuan keluarganya. Ia menyatakan bahwa seorang korban cyberbullying ternyata seharusnya menceritakan pada orang terdekatnya, misalnya abang atau sahabatnya.



Pembagian Tugas

a. Pra-Pelaksanaan
Perencanaan:  Seluruh an
Menyusun prosedur pelaksanaan:  Yunike, Flora, Utary
Mencari video:  Renita, Flora
Mencari gambar:  Utary

b. Pelaksanaan
Presenter:  Renita, Gianne, Yunike
Dokumentasi:  Flora, Yunike, Utary
Operator laptop :   Utary
(sambil menjelaskan isi video)

c. Presentasi
Video Editor:  Yunike
Ice Breaker:  Renita, Yunike, Gianne
Presenter: Utary, Gianne
Operator laptop: Flora
(sambil menjelaskan video)
Menanggapi Audience:  Gianne, Renita, Flora, Utary, Yunike



Pertanyaan & Tanggapan dari Audience Kelas Andragogi
  • Rini  (13-066)
P :  Kalau dengan stand up comedy, biasanya kan komiknya suka menghina  atau mentertawakan orang juga. Di slide apabila sebagai pendidik, lalu gimana caranya kalo mau ngasih tau ke sepupu untuk mencegah cyberbullying?
T : Kita meskipun bukan sebagai pendidik, kita juga harus menjelaskan perbedaaan antara humor dan sarcasm. Stand up comedy salah satunya. Misalnya ada saudara kita yang merasa dibully dan susah mengutarakan perasaannya, bisa memakai cara seperti stand up comedy (mengutarakan pendapat tanpa membuat orang lain tersakiti).
  • M. Saif  (12-027)
P :  Gimana kita tahu dia ngerasa dibully/ tidak?
T : Dari video yang kami tampilkan, disitu di tampilkan bahwa orang yg merasa di bully akan lebih banyak terlihat sendiri daripada berkumpul dengan orang lain dan juga dia akan terlihat murung atau sedih. 

  • Agita  (13-044)
P :  Kenapa videonya kebanyakan lebih tentang respon audience daripada untuk audience di kelas?
T :  Karena itu pendekatan teknik proyeketif  jadi kami menampilkan video kepada audience tentang cyberbully yang menjadi trending topic di kalangan anak muda yang aktif menggunakan social media, dengan menampilkan video kami ingin membuat perubahan kepada teman audience yang menjadi pelaku cyberbully atau yang menjadi korban cyberbully. Kami berhdapa audience menjadi agent of agency untuk mengubah perilaku cyberbully yang dapat menyakiti orang lain.

  • Indri  (12-011)
P : Gimana kalau teman kita gak punya power untuk mengatakan kalo mereka itu tersakiti karena cyberbullying?
T : Kita sebagai orang yang sudah mengetahui ciri-cirinya atau tanda-tandanya sebaiknya menanyakan secara langsung dan membantunya seperti tips-tips yang kami bagikan tadi. Dan kita juga bisa membagikan apa yang kita ketahui ini pada orang lain agar orang ini juga dapat mengetahui tanda-tanda terjadinya cyberbullying disekitar mereka dan mereka dapat membantu orang lain lagi.

  • Livi  (12-002)
P : Konsepnya sangat bagus. Videonya kurang lebar dan suara spekernya kurang besar. Materinya bagus, sesuai dengan mahasiswa yang menggunakan internet. Gimana kalo Dijah Yellow & Syahrini? Dia kan senang-senang aja, malah mencari popularitas dari situ. Gimana sebenarnya konsep cyberbullying itu?
T : Cyberbullying sebenarnya tergantung persepsi subjek. Jika subjek tidak merasa dihina/dibully di sosmed maka itu bukan cyberbullying. Contohnya seperti Dijah Yellow dan Syahrini. Mereka memang tidak menganggap komen-komen orang di instagram mereka sebagai hinaan. Mereka malah memanfaatkan itu untuk membuat mereka tenar.

  • Firman  (13-088)
Saran :  Konsepnya bagus, seharusnya dilaksanakan di kelas besar saja karena informasinya juga penting untuk kita semua.


NB: 
P=PERTANYAAN/PERNYATAAN
T=TANGGAPAN


Dokumentasi




Wednesday, March 18, 2015

Konsep Performa Pembelajaran Metode Proyektif

“Cyberbullying”
Oleh:

Teknik Proyektif
Teknik proyektif adalah teknik pembelajaran yang menggambarkan suatu masalah melalui cerita, cerita bergambar, sandiwara, dengan berbagai media untuk menggali dimensi permasalahan-permasalahan tersembunyi yang ada pada peserta didik.  Informasi yang dibutuhkan oleh peserta didik dapat diperoleh melalui diskusi, wawancara, atau konsultasi dengan para ahli. Peserta didik berperan di akhir cerita. Mereka mendiskusikan perilaku dan motivasi tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Dengan mendiskusikannya, peserta didik dapat mengungkapkan perasaan-perasaannya, tata nilai, dan sebagainya.

Topik: Cyberbullying
Cyberbullying adalah kekerasan dalam bentuk teks atau pesan instan yang bersifat kasar dan menghina seseorang di media sosial. Menurut wikipedia, cyberbullying adalah penggunaan teknologi informasi untuk menyakiti orang lain secara berulang-ulang dengan sengaja. Cyberbullying itu dapat dibatasi dengan memposting rumor atau gosip tentang seseorang di internet dan mengandung sifat kebencian dalam pemikiran orang yang melakukan cyberbullying; atau juga dapat diperluas dengan mengidentifikasi korban secara personal dan mempublikasikan material sesorang dengan tujuan menfitnah dan mempermalukan orang tersebut.
          Cyberbullying dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi  informasi  dan komunikasi untuk mendukung hostile behavior yang dilakukan dengan sengaja dan berulang-ulang oleh individu atau kelompok untuk menyakiti orang lain. Menggunakan internet dan mobile technology seperti web page dan grup diskusi atau SMS dengan tujuan menyakiti orang lain. Menyakiti seseorang dalam cyberbullying ada dua cara, yaitu : cyberstalking atau cyberharassment yang dilakukan orang dewasa terhadap orang dewasa. Cyberstalker bertindak di forum publik, media sosial , atau situs-situs informasi online dan bertujuan untuk mengancam  penghasilan, pekerjaan, reputasi, atau keamanan korban. Beberapa pelaku dapat mempublikasikan foto korban atau foto korban yang sudah di edit beserta penjelasan gambar yang menfitnah atau memasang wajah korban dengan tampilan tubuh yang telanjang.  Cyberbullies dapat menunjukkan data pribadi korban (nama asli, alamat rumah atau tempat kerja/ sekolah) di website atau forum atau bisa menggunakan peniruan, menciptakan akun palsu, tempat mengutarakan komentar-komentar atau sikap sebagai   target mereka untuk tujuan mempublikasikan material dalam nama mereka yang memfitnah, mencemarkan nama baiknya, atau mempermalukan mereka. Pelaku seringkali tidak menyebutkan nama mereka atau anonim sehingga seringkali pelaku tidak diketahui dan tidak dapat di proses dengan hukum. Cyberbullying dapat terjadi setiap waktu.

Why?
Topik ini diangkat karena akhir-akhir ini marak terjadi cyberbullying di sekitar kita. Tujuannya adalah  membuat peserta didik sadar bahwa cyberbullying merupakan suatu hal yang melanggar norma sosial dan norma hukum yaitu UU ITE Pasal 27 ayat 3 yang berbunyi setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/ menstransmisikan dan/ membuat dapat diaksesnya informasi dan/ dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/ pencemaran nama baik dan Pasal-pasal KUHP yang mengatur tentang cyberbullying yang tercantum dalam Bab XVI mengenai penghinaan, khususnya Pasal 310 ayat (1) dan (2). Pembelajaran ini ditujukan pada mahasiswa di Fakultas Psikologi USU. Peserta didik diharapkan lebih memahami dampak negatif dari cyberbullying. Dampak psikologis dari cyberbulling adalah:
1.       Tidak bersemangat melakukan kegiatan yang tadinya disukai
2.       Enggan berangkat kerja atau atau sering menjadi membolos
3.       Susah tidur atau mimpi buruk
4.       Mudah merasa takut
5.       Tidak percaya diri
6.       Muncul keinginan membully sebagai bentuk balas dendam
7.       Social phobia
8.       Bullyside: bunuh diri karena tertekan secara mental.

Media/Sarana belajar: alat pandang dengar  (Video dari youtube, gambar dari sosial media)


Peserta                        : 5 orang mahasiswi Psikologi USU 
Tanggal pelaksaan        : Selasa, 30 Maret 2015
Waktu pelaksanaan       : 08.00-selesai
Tempat                        : Taman USU
Durasi                          : maks. 1 jam
Biaya yg diperlukan      : Rp25.000 (minum utk 5 orang) 

Prosedur
Model rancangan belajar adalah model peran dengan jenis satuan kegiatan pertemuan umum. Prosedur pembelajaran:
·         Pembukaan
·         Cerita
·         Menampilkan foto-foto
·         Menampilkan video
·         Diskusi.

Sumber:
Arif, Zaainudin. 2012. Andragogi. Bandung: Angkasa.

Tuesday, December 30, 2014

Analisis Fenomena Menurut Marvin Zuckerman: Sensation Seeking

Remaja Ini Tidur Di Luar Rumah Hanya Untuk Tahu Rasanya Jadi Tuna Wisma
Kamis, 30 Januari 2014 14:10



Foto: copyright odditycentral.com
Vemale.com - Rasa peduli pada sesama nampaknya sudah mulai memudar di hati manusia. Namun tidak bagi remaja 17 tahun ini.
Adalah Rudy Hamel, remaja tampan ini rela tidur di luar rumah selama 7 bulan terakhir. Ia berencana melanjutkan aksinya ini hingga genap satu tahun. Proyek unik ini ia lakukan untuk menguji dirinya sendiri. Selain itu, ia juga ingin meningkatkan kesadaran tentang betapa susahnya menjadi seorang tuna wisma.

Foto: copyright odditycentral.com
Foto: copyright odditycentral.com

"Aku ingin melakukannya selama satu tahun karena ingin menantang diriku sendiri, tapi sekarang lebih dari itu. Aku mencoba untuk sekalian menggalang dana bagi para tuna wisma," ujar Rudi dilansir dari odditycentral.
Pada awalnya, Rudi berencana menjadi 'gelandangan' hanya pada saat musim panas. Namun ternyata, remaja yang satu ini merasa ketagihan. Ia begitu mencintai proyek uniknya ini dan menghabiskan waktu di luar rumah.
Sampai hari ini, di saat suhu mencapai minus 23 derajat, ia tetap mencoba tidur di luar rumah. Berlapis-lapis selimut, jaket, dan kantung tidur sudah ia siapkan.

Teori Marvin Zuckerman: Sensation Seeking
Menurut Zuckerman, sensation seeking adalah keinginan untuk sensasi intens atau menegangkan dan pengalaman yang bervariasi, baru, dan rumit, dan kerelaan untuk mengambil resiko fisik, sosial, dan finansial demi sebuah pengalaman.
Assessing Sensation Seeking
Untuk mengukur sensation seeking, Zuckerman membentuk Sensation Seeking Scale (SSS), memiliki 40 pertanyaan kuisioner.
Dengan menggunakan metode factor analysis, Zuckerman (1983) mengidentifikasikan ke dalam empat komponen dari sensation seeking :
  1. Thrill and adventure seeking: keinginan untuk terikat dalam aktivitas fisik yang melibatkan kecepatan, bahaya, dan hal yang menantang gravitasi seperti bungee jumping, parachuting dan scuba diving.
  2. Experience seeking: mencari pengalaman baru melalui perjalanan, musik, seni, atau gaya hidup yang tidak sesuai dengan norma-norma sosial.
  3. Disinhibition: kebutuhan untuk mencari aktivitas sosial yang liar.
  4. Boredom susceptibility: tidak menyukai pengalaman yang berulang, pekerjaan rutin, dan orang yang dapat diprediksi, dan reaksi dari rasa gelisah, tidak puas ketika dihadapkan pada situasi tertentu.

Characteristics of Sensation Seekers
Zuckerman dan rekannya mendapatkan bahwa sensation seeking  dipengaruhi oleh usia. Orang yang lebih muda akan cenderung untuk memilih pengalaman yang baru, hal yang berisiko dan berpetualangan dibandingkan dengan orang yang lebih tua. Perbedaan gender juga didapatkan dalam empat komponen dari sensation seeking. Pria lebih memilih thrill and adventure seeking, disinhibition, dan boredom susceptibility. Sedangkan wanita lebih memilih experience seeking.

Analisis Berdasarkan Teori Marvin Zuckerman
Berdasarkan berita di atas, Rudy Hamel termasuk sensation seeker karena ia rela mengambil resiko fisik, sosial, dan finansial demi sebuah pengalaman baru yaitu menghabiskan waktu di luar rumah dan tidur di luar rumah selama satu tahun untuk merasakan bagaimana susahnya menjadi tuna wisma bahkan saat musim dingin dengan suhu minus 23 derajat.

Fenomena ini meliputi empat komponen sensation seeking, yaitu:
1. Thrill and adventure seeking: Rudy Hamel termasuk dalam komponen ini karena ia ingin terikat dalam aktivitas fisik yang berbahaya dan menantang yaitu tidur di luar rumah selama satu tahun. Hal ini ia lakukan karena ingin menantang dirinya.

2.  Experience seeking: Rudy ingin mencari pengalaman baru dimana ia ingin mengetahui bagaimana susahnya menjadi seorang ‘gelandangan’ dan mengikuti gaya hidup mereka.

3. Disinhibition: Rudy juga ingin menantang dirinya dan mencoba aktivitas sosial yang liar yaitu menghabiskan waktu di luar rumah.

4. Boredom susceptibility: tidak menyukai pengalaman yang berulang, pekerjaan rutin, dan orang yang dapat diprediksi mungkin saja menjadi penyebab Rudy melakukan proyek ini yang terlihat ketika ia merencanakan kegiatan ini dalam rangka meningkatkan kesadaran tentang bagaimana susahnya menjadi seorang ‘gelandangan’ dan merasa ketagihan dalam melaksanan proyek uniknya ini.


Zuckerman dan rekannya menemukan bahwa sensation seeking dipengaruhi oleh usia dan gender dimana orang yang lebih muda akan lebih cenderung untuk memilih pengalaman yang baru, beresiko, dan berpetualang dibanding dengan orang yang lebih tua dan pria lebih cenderung memilih thrill and adventure seeking, disinhibition, dan boredom susceptibility sedangkan wanita lebih memilih experience seeking. Hal ini terlihat pada fenomena Rudy Hamel yang masih berusia muda yaitu 17 tahun sehingga ia senang melakukan pengalaman-pengalaman yang menantang dan ia juga seorang remaja laki-laki yang membuat dirinya tertarik dengan thrill and adventure seeking.

Sumber:
  • http://www.vemale.com/ragam/47677-remaja-ganteng-ini-tidur-di-luar-rumah-hanya-untuk-  tahu-rasanya-jadi-tuna-wisma.html
  • Schultz.2005.Theories of Personality.United States of America: Wadswort

Thursday, June 19, 2014

PIO Iklan Kelompok 1


PIO Pelatihan/Training

Pelatihan adalah pembelajaran terstruktur melalui pengalaman yang diharapkan dapat mengembangkan kemampuan menjadi keahlian khusus, pengetahuan, atau perilaku.

Fungsi pelatihan:
-          Mempertahankan kinerja karyawan secara keseluruhan dalam batas-batas yang diperlukan bagi suatu organisasi untuk memenuhi tujuannya
-          Mengirimkan pesan pada karyawan tentang prioritas, martabat, dan norma-norma dalam suatu organisasi
-          Memotivasi karyawan agar performa kerjanya berjalan lancar dan dapat meningkatkan posisi menjadi lebih menantang dalam oragnisasi
-          Melibatkan segala sesuatu dari orientasi karyawan baru menjadi pelatihan kepemimpinan bagi karyawan yang sudah berpengalaman
-          Melatih karyawan untuk menjadi yang terbaik
Membantu mempertahankan karyawan dan menciptakan tenaga kerja yang produktif.

Metode Pelatihan:
1.      Pembelajaran berbasis teknologi
Contoh: Pelatihan yang menggunakan program PC, video interaktif, ataupun menggunakan      internet
2.      Simulator
Contoh: Kebanyakan simulator sangat mahal tapi untuk pekerjaan tertentu, seperti belajar menerbangkan pesawat 747, simulator sangat diperlukan.
3.      On-The-Job Training
Contoh: Tidak membutuhkan pegawai atau fasilitas yang khusus dan hubungan dari apa yang diajarkan pada mereka terlihat jelas oleh peserta pelatihan.
4.      Coaching/Mentoring
Contoh: Mengundang seorang pelatih yang sudah berpengalaman untuk melatih para peserta pelatihan.
5.      Ceramah
Contoh: Biasanya dilakukan di dalam kelas. Ceramah ini bisa sangat membosankan karena tidak ada interaksi antara penceramah dengan peserta pelatihan
6.      Diskusi kelompok dan tutorial:
Contoh: Diskusi dalam kelompok tentang suatu program yang akan dijalankan dan diberikan arahan oleh pelatih.
7.      Role Playing
Contoh: Bermain peran dimana salah seorang berperan menjadi manager dan salah seorang lagi berperan menjadi karyawan lalu membicarakan tentang isu-isu yang ada dalam pekerjaan.
8.      Management Games
Contoh:
Lipatlah Lengan Anda

Garis besar
Latihan ini mendemonstrasikan bagaimana manusia bisa tahan dengan perubahan dan
betapa tidak nyamannya perasaan mereka terhadap perubahan sederhana.

Tujuan
1. Membuat peserta melihat bahwa mereka dapat merasa tidak nyaman dengan
perubahan.
2. Untuk menunjukkan betapa mudahnya memiliki perasaan keengganan untuk berubah
karena perubahan terkadang tidak menyenangkan.

Waktu yang dibutuhkan
5-10 menit.

Jumlah peserta
Tidak dibatasi.

Materi yang dibutuhkan
Tidak ada.

Prosedur
1. Mintalah peserta berdiri dan mengangkat lengan mereka lurus di depan badan.
Sekarang mintalah mereka melipat lengan mereka bersamaan.
2. Mintalah mereka mengamati lengan sebelah mana yang berada dia atas.
3. Sekarang mintalah mereka melipat lengan mereka lagi, tapi kali ini dengan lengan
yang satu lagi, tapi kali ini dengan lengan yang satu lagi berada di atas.
4. Mintalah mereka memberitahukan orang di sebelahnya bagaimana perasaannya ketika
mengubah posisi dan begitu pula sebaliknya.
5. Sekarang Anda dapat memimpin suatu diskusi tentang perubahan, betapa tidak
nyamannya kita terhadap perubahan atau keengganan untuk berubah.

Poin diskusi
1. Apakah peserta merasa nyaman ketika mereka mengubah posisi?
2. Berapa banyak yang merasa nyaman?
3. Berapa banyak yang tidak dapat melakukannya?

9.      Pelatihan di luar ruangan
Contoh: Outbond atau pelatihan petualangan
10.  Films & Videos
Contoh: Film dan video dapat digunakan sendiri atau dalam hubungannya dengan metode pelatihan lainnya. Menggunakan film atau video yang berkaitan dengan tema pelatihan.

11.  Studi kasus
Contoh: Peserta pelatihan diberikan beberapa kasus yang nyata dalam pekerjaan untuk didiskusikan
12.  Planned Reading
Contoh: Peserta pelatihan perlu memahami isu-isu tertentu sebelum menuju ke kelas atau sesi team building.

Sumber:

Jewell,L.N.1998.Contemporary Industrial/Organizational Psychology Third Edition. United States of America: Brooks/Cole Publishing Company.

Perbedaan Sampel Independen dengan Sampel Berhubungan

Perbedaan antara Sampel Independen dengan Sampel Berhubungan

            Sampel independen adalah sampel bebas adalah sampel yang dapat menyebabkan sampel-sampel berhubungan. Sampel-sampel independen tidak harus memiliki ukuran yang sama.
Sampel independen digunakan jika :
-          Sampel-sampel berhubungan tidak dapat dilakukan atau tidak cocok dilakukan.
-          Variabel-variabel berhubungan tidak memungkinkan untuk membuat subyek-subyek menjadi pengontrol dirinya sendiri.
-          Tidak ditemukan pasangan-pasangan variabel yang baik.

Cara pengambilan sampel independen:
1.      Sampel-sampel ditarik dari suatu populasi secara random.
2.      Sampel-sampel muncul karena diterapkannya perlakuan terhadap anggota-anggota sampel secara random.

Sampel berhubungan adalah sampel yang dipengaruhi atau sebagai akibat dari sampel-sampel bebas atau independen. Sampel berhubungan menggunakan pasangan-pasangan sampel yang diambil dari sampel-sampel yang kita teliti. Cara pemasangan sampel yaitu menggunakan setiap subyek untuk menjadi pengontrol dirinya sendiri atau dengan memasangkan setiap subyek lalu memberikan perlakuan yang berbeda kepada anggota pasangan. Sampel berhubungan banyak mengandung kebaikan dan keuntungan dalam penggunaannya namun sering tidak praktis atau tidak efisien. Populasi antar pasangan sampel tidak harus sama.
Sampel berhubungan digunakan:
-          Untuk mengatasi perbedaan-perbedaan yang disebabkan adanya “faktor luar”.
-          Untuk membuat keseimbangan antara urutan perlakuan yang diberikan.
Cara pengambilan sampel berhubungan:
1.      Sampel berhubungan diambil dari populasi yang tidak harus sama tetapi sampel-sampel harus mirip.
2.      Sampel berhubungan dapat muncul karena adanya karakteristik yang mirip antar sampel.

Perbedaan antara sampel independen dengan sampel berhubungan yaitu:
1.      Sampel independen ditarik secara random dari suatu populasi sedangkan sampel berhubungan diambil dari populasi yang tidak harus sama tetapi sampel-sampel harus mirip.
2.      Sampel independen tidak dapat terpengaruh oleh sampel lain sedangkan sampel berhubungan dipengaruhi oleh sampel independen.

Contoh kasus:

1.      Sampel independen: Seorang peneliti ingin mengetahui apakah ada perbedaan karakteristik kepemimpinan pada karyawan yang diberikan training dengan yang tidak.
Sampel diambil dari suatu perusahaan sebanyak 30 orang dan dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Kelompok yang pertama tidak diberikan training sedangkan kelompok kedua diberikan training.

2.      Sampel berhubungan: Seorang peneliti ingin mengetahui apakah ada perbedaan karakteristik kepemimpinan pada karyawan yang diberikan training dengan yang tidak. Sampel diambil dari suatu perusahaan dan peneliti mengambil 2 orang karyawan yang mempunyai karakteristik yang mirip untuk dijadikan pasangan lalu 1 orang tidak diberikan training sedangkan karyawan yang 1 lagi diberikan training.